Sugeng Rawuh

selamat datang di blog pribadi saya
semoga dapat menjadi media berbagi ilmu

Kamis, 15 Maret 2012

Minggu, 29 Januari 2012

Cukup Hanya Allah dalam semua keadaan


Biarlah Allah saja yang menjadi motivatorku, sehingga tanpa sadar setiap peristiwa menjadi teguran atas kemalasanku…
Cukup Allah saja yang memelihara ketekunanku, karena perhatian manusia terkadang menghanyutkan keikhlasan…
Semoga Allah dapat menjaga hati ini dari segala sesuatu yang dapat merusaknya….
Semoga Allah menghilangkan segala kecemasan dalam hatiku…
Semoga Allah menjadikanku pribadi yang bermakna, “ saat berbaur mampu menyemangati yang lain dan saat sendiri mampu menguatkan diri sendiri, amien…”

Wahai lelaki ditepi hidupku,,,hati ini ingin kau sentuh dengan cahaya surga-Nya….
(K.Nisa 070110)

رَبَّنَا ءَاتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
Robbanaa aatinaa minladunka rohmataw wahayya lanaa min amrinaa rosyada
“Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. (Q.S. Al-kahfi : 10)

Motivation of The Day


  • Jangan liat masa lampau dengan penyesalan dan jangan pula liat masa depan dengan ketakutan, tapi lihatlah di sekitarmu dengan penuh kesadaran. (James Thurber)
  • Kebenciian atau dendam tidak menyakiti orang yang tidak anda sukai, tetapi setiap hari dan setiap malam dalam kehidupan anda, persaan itu akan menggerogoti anda. (Norman Vincent Peale)
  • Seorang pemimpin adalah orang yang melihat lebih banyak dari pada yang dilihat orang lain, melihat lebih jauh dari pada yang dilihat orang lain dan melihat lebih sebelum orang lain melihat. (Leroy Eims)
  • Sifat cinta sama dengan sifat air dalam tanah.apabila anda tidak cukup menggali, yang anda peroleh adalah air yang keruh.apabila anda cukup menggali, yang anda peroleh adalah air yang bersih dan jernih. (Hazrat Inayat Khan)
  •  Hanya mereka yang berani gagal dapat meraih keberhasilan(Robert F. Kennedy)

Minggu, 22 November 2009

HARGA SEBUAH DEMOKRASI




Dengan ucapan basmallah kita mulai sebuah perbuatan dan dengan melafatkan hamdallah kita mengakhirinya, demi mendapat ridho Dzat yang telah memberi kita kesempatan untuk mempelajari sesuatu yang baru. Demikianlah yang sudah terbangun dalam moral pola kehidupan seorang muslim, sebab landasannya sudah jelas, jika yang akan dikerjakan itu adalah wujud dari ekspresi iman dan taqwa kepada Allah, maka ikhlas adalah wujud kesungguhan ia bekerja dan berjuang dan ridho adalah imbalan dari kerja kerasnya. Inilah sikap moral dari seorang muslim dan dari sinilah etos kerja seorang muslim terbangun, bahwa bekerja keras dan dan berjuang dalam kapasitas apa saja, kapan saja dan dimana saja adalah ibadah sekaligus jalan dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang sekaligus menjadi cara atau langkah hidup sebagai seorang pemimpin.
Adalah pemilu, pesta demokrasi anak bangsa, demikian kata orang yang tengah dimabuk euphoria demokrasi. Gegap gempitanya begitu dahsyat, sangat menguras tenaga dan pikiran serta menghabiskan dana yang tidak sedikit (entah dari mana asalnya) bahkan tidak berlebihan jika kita sebutkan bahwa pesta demokrasi rakyat yang datang 5 tahun sekali ini adalah pesta pemborosan yang luar biasa yang terjadi di muka bumi ini. Negeri yang selalu mengdepankan kenikmatan sesaat tanpa perubahan berarti. Adalah harga yang harus dibayar oleh pelaku-pelakunya dengan demokrasi yang sangat mahal memang tapi demi meraih sebuah cita-cita yakni ikut andil dalam pesta rakyat untuk menjadi jembatan suara rakyat. Tapi demi meraih sebuah cita-cita, yaitu ikut andil memperjuangkan sebuah masyarakat yang damai dan dapat menikmati hasil bumi serta kekayaan alam negerinya bukan menjadi pahlawan devisa di negeri orang dan menjadi kuli di negeri sendiri.
Ada sebuah kata kunci yang sesungguhnya tertanam dan tersentuh dihati setiap penduduk negeri ini adalah ”perubahan” . Tidak hanya sekedar sebuah mimpi, tapi dunia nyata yang mereka ingin wujudkan. Bukankah rakyat adalah pemilik sah negeri ini? Perubahan yang diinginkan rakyat ini harus dibarengi dengan perubahan dari seluruh aspek yang menjadi agen-agen dalam perubahannya. Perubahan sosial dan budaya bukanlah sebuah proyek sekali jadi yang dapat dibereskan sesuai dengan keinginan dan waktu kita. Perubahan budaya adalah sebuah perubahan yang menuntut ketabahan untuk menghadapi banyak hal tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Penyelesaiannya pun tidak bisa diserahkan hanya kepada pemerintah saja, tetapi harus sinergi dengan berbagai elemen masyarakat. Setidaknya dari inilah dapat kita petik berapa mahal harga sebuah kata ”demokrasi” bukan dinilai dari rupiahnya, akan tetapi lebih pada esensi perubahan yang benar-benar diharapkan oleh rakyat. Jika kita kutip dari penggalan percakapan yang ada pada film Laskar Pelangi maka kita akan tahu bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya tidak hanya didunia akan tetapi ketika diri kita sudah menghadap lagi pada-Nya.

Selasa, 30 Juni 2009

NASIB PENDIDIKAN DITENGAH RIUHNYA POLITIK INDONESIA (diskursus sekolah bertaraf internasional = sekolah ideal = sekolah mahal vs APBN untuk Pendidikan 20% ??)



Trend pendidikan semakin tahun semakin bergeser pada pemenuhan selera konsumen. Ini ditandai dengan hadirnya sekolah-sekolah dengan label-label khusus, misalnya Sekolah Standar Nasional (SSN), sekolah dengan kelas Immersi, Sekolah Bertaraf Internasional (SBI), dsb. Kemunculan sekolah-sekolah dengan label-label tertentu jelas menjadikan pembiayaan yang harus dikeluarkan pun semakin “berkelas” dibandingkan dengan sekolah-sekolah dengan standar umum. Sekolah yang mempunyai label khusus itu pun yang pada akhirnya pembiayaannya menyedot anggaran dana pemerintah dengan jumlah besar dan pengeluaran yang juga harus dibayarkan oleh orangtua murid yang besarnya jauh diatas rata-rata sekolah rintisan apalagi sekolah berstandar “rintihan”(sekolah pinggiran).
Menguatnya Trend ini mau tidak mau membawa akses yang signifikan ditengah masyarakat, mengingat bahwa pemahaman masyarakat terhadap pendidikan masih minim (tentu saja hal ini tanpa menafikkan insan-insan yang pengetahuan tentang dunia pendidikannya tinggi). Sekolah bertaraf internasional mereka klasifikasikan sebagai sekolah yang tingkat akademiknya tinggi, tidak sepenuhnya salah memang, tapi pertanyaan yang muncul dari mereka lebih pada ranah finansial yang mengharuskan masyarakat untuk lebih dalam lagi mengorek kantongnya demi gengsi sekolah yang mempunyai taraf internasional.
Sebetulnya kalau kita mau cermat, sebuah sekolah tentunya didirikan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pendidikan warga dengan mengacu pada kebutuhan pada masing-masing daerah. Tanpa bermaksud menimbulkan hegemoni dalam pendidikan tentunya pengadaan sekolah dengan label-label yang exclusive tersebut setidaknya hanya dapat diadakan pada daerah-daerah yang mempunyai input yang bagus untuk dilanjutkan pada taraf internasional, akan tetapi jika kita telaah lebih dalam masih banyak lingkungan di Indonesia yang untuk meneruskan denyut pendidikannya saja masih kembang kempis. Kalau sudah begini bisa dibayangkan bagaimana proses pembelajaran disekolah-sekolah seperti ini dapat dilangsungkan, bahkan yang ada tenaga pendidik hanya dipusingkan tentang bagaimmana cara mengajar murid yang inputnya rendah.
Hal ini diperparah dengan kenyataannya bahwa masyarakat luas dalam mengartikan pendidikan masih parsial, maka keberadaan sekolah-sekolah dengan label “wah” itu hanya akan mengesankan adanya gedung mewah berpilar emas ditengah-tengah kumpulan rumah kardus yang kumuh, amat menyilaukan mata. Kalaupun terpaksa sekolah-sekolah dengan standar “rintihan” harus ada, maka sudah menjadi tugas pemerintah untuk mendampingi sekolah-sekolah yang tak berdaya dengan memenuhi fasilitas-fasilitas yang belum ada disekolah itu sehingga tidak terjadi kesenjangan yang mencolok dalam dunia pendidikan.
Sebagai contoh dapat kita ambil dari novel Laskar Pelangi yang sebagai kisah nyata kemudian di dokumentasikan sebagai film yang mampu membuat kita insan pendidikan seakan malu dengan kualitas pendidikan yang kita berikan kepada anak didik dan masyarakat pada umumnya. Jika kita bandingkan antara keadaan Bintan yang saat itu dengan tempat tinggal kita saat ini tentu mempunyai perbedaan yang seharusnya bisa pula menjadi daya pendukung bagi kualitas pendidikan yang kita berikan. 

Senin, 22 September 2008

Sejarah Islam Syi'ah


I.      Pendahuluan
Sejarah Islam mencatat bahwa hingga saat ini terdapat dua macam aliran besar dalam Islam. Keduanya adalah Ahlussunnah (Sunni) dan Syi’ah. Tak dapat dipungkiri pula, bahwa dua aliran besar teologi ini kerap kali terlibat konflik kekerasan satu sama lain, sebagaimana yang kini bisa kita saksikan di negara-negara seperti Irak dan Lebanon.
Terlepas dari hubungan antara keduanya yang kerap kali tidak harmonis, Syi’ah sebagai sebuah mazhab teologi menarik untuk dibahas. Diskursus mengenai Syi’ah telah banyak dituangkan dalam berbagai kesempatan dan sarana. Tak terkecuali dalam makalah kali ini. Dalam makalah ini kami akan membahas pengertian, sejarah, tokoh, ajaran, dan sekte Syi’ah. Semoga karya sederhana ini dapat memberikan gambaran yang utuh, obyektif, dan valid mengenai Syi’ah, yang pada gilirannya dapat memperkaya wawasan kita sebagai seorang Muslim.

II.      Pembahasan
1.      Pengertian Syi’ah
a.       Syi’ah adalah satu aliran dalam Islam yang meyakini bahwa ‘Ali bin Abi Thalib dan keturunannya adalah imam-imam atau para pemimpin agama dan umat setelah Nabi Muhammad saw. Dari segi bahasa, kata Syi’ah berarti pengikut, atau kelompok atau golongan, seperti yang terdapat dalam surah al-Shâffât ayat 83 yang artinya: “Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh).”
b.      Syi’ah secara harfiah berarti kelompok atau pengikut. Kata tersebut dimaksudkan untuk menunjuk para pengikut ‘Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin pertama ahlulbait. Ketokohan ‘Ali bin Abi Thalib dalam pandangan Syi’ah sejalan dengan isyarat-isyarat yang telah diberikan Nabi Muhammad sendiri, ketika dia (Nabi Muhammad—pen.) masih hidup.
c.       Syi’ah adalah salah satu aliran dalam Islam yang berkeyakinan bahwa yang paling berhak menjadi imam umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad saw ialah keluarga Nabi saw sendiri (Ahlulbait). Dalam hal ini, ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib (paman Nabi saw) dan ‘Ali bin Abi Thalib (saudara sepupu sekaligus menantu Nabi saw) beserta keturunannya.
d.      Perkataan Syi’ah secara harfiah berarti pengikut, partai, kelompok, atau dalam arti yang lebih umum “pendukung”. Sedangkan secara khusus, perkataan “Syi’ah” mengandung pengertian syî’atu ‘Aliyyîn, pengikut atau pendukung ‘Ali bin Abi Thalib.
e.       Kata Syi’ah menurut pengertian bahasa secara umum berarti kekasih, penolong, pengikut, dan lain-lainnya, yang mempunyai makna membela suatu ide atau membela seseorang, seperti kata hizb (partai) dalam pengertian yang modern. Kata Syi’ah digunakan untuk menjuluki sekelompok umat Islam yang mencintai ‘Ali bin Abi Thalib karramallâhu wajhah secara khusus, dan sangat fanatik.
f.        Secara lingusitik, Syi’ah adalah pengikut. Seiring dengan bergulirnya masa, secara terminologis Syi’ah hanya dikhususkan untuk orang-orang yang meyakini bahwa hanya Rasulullah saww (shallallâhu ‘alayhi wa âlihi wa sallampen.) yang berhak menentukan penerus risalah Islam sepeninggalnya.

2.      Sejarah Syi’ah
Para penulis sejarah Islam berbeda pendapat mengenai awal mula lahirnya Syi’ah. Sebagian menganggap Syi’ah lahir langsung setelah wafatnya Nabi Muhammad saw, yaitu pada saat perebutan kekuasaan antara golongan Muhajirin dan Anshar di Balai Pertemuan Saqifah Bani Sa’idah. Pada saat itu muncul suara dari Bani Hasyim dan sejumlah kecil Muhajirin yang menuntut kekhalifahan bagi ‘Ali bin Abi Thalib.
Sebagian yang lain menganggap Syi’ah lahir pada masa akhir kekhalifahan ‘Utsman bin ‘Affan atau pada masa awal kepemimpinan ‘Ali bin Abi Thalib.
Pendapat yang paling populer adalah bahwa Syi’ah lahir setelah gagalnya perundingan antara pihak pasukan Khalifah ‘Ali dengan pihak pemberontak Mu’awiyah bin Abu Sufyan di Shiffin, yang lazim disebut sebagai peristiwa tahkîm atau arbitrasi Akibat kegagalan itu, sejumlah pasukan ‘Ali memberontak terhadap kepemimpinannya dan keluar dari pasukan ‘Ali. Mereka ini disebut golongan Khawarij. Sebagian besar orang yang tetap setia terhadap khalifah disebut Syî’atu ‘Alî (pengikut ‘Ali).
Pendirian kalangan Syi’ah bahwa ‘Ali bin Abi Thalib adalah imam atau khalifah yang seharusnya berkuasa setelah wafatnya Nabi Muhammad telah tumbuh sejak Nabi Muhammad masih hidup, dalam arti bahwa Nabi Muhammad sendirilah yang menetapkannya. Dengan demikian, menurut Syi’ah, inti dari ajaran Syi’ah itu sendiri telah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw.
Namun demikian, terlepas dari semua pendapat tersebut, yang jelas adalah bahwa Syi’ah baru muncul ke permukaan setelah dalam kemelut antara pasukan Mu’awiyah terjadi pula kemelut antara sesama pasukan ‘Ali. Di antara pasukan ‘Ali pun terjadi pertentangan antara yang tetap setia dan yang membangkang.

3.      Tokoh-tokoh Syi’ah
Dalam pertimbangan Syi’ah, selain terdapat tokoh-tokoh populer seperti ‘Ali bin Abi Thalib, Hasan bin ‘Ali, Husain bin ‘Ali, terdapat pula dua tokoh Ahlulbait yang mempunyai pengaruh dan andil yang besar dalam pengembangan paham Syi’ah, yaitu Zaid bin ‘Ali bin Husain Zainal ‘Abidin dan Ja’far al-Shadiq. Kedua tokoh ini dikenal sebagai orang-orang besar pada zamannya. Pemikiran Ja’far al-Shadiq bahkan dianggap sebagai cikal bakal ilmu fiqh dan ushul fiqh, karena keempat tokoh utama fiqh Islam, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal, secara langsung atau tidak langsung pernah menimba ilmu darinya. Oleh karena itu, tidak heran bila kemudian Syaikh Mahmud Syaltut, mantan Rektor Universitas al-Azhar, Mesir, mengeluarkan fatwa yang kontroversial di kalangan pengikut Sunnah (Ahlussunnah—pen.). Mahmud Syaltut memfatwakan bolehnya setiap orang menganut fiqh Zaidi atau fiqh Ja’fari Itsna ‘Asyariyah.
Adapun Zaid bin ‘Ali bin Husain Zainal ‘Abidin terkenal ahli di bidang tafsir dan fiqh. Pada usia yang relatif muda, Zaid bin ‘Ali telah dikenal sebagai salah seorang tokoh Ahlulbait yang menonjol. Salah satu karya yang ia hasilkan adalah kitab al-Majmû’ (Himpunan/Kumpulan) dalam bidang fiqh. Juga karya lainnya mengenai tafsir, fiqh, imamah, dan haji.
Selain dua tokoh di atas, terdapat pula beberapa tokoh Syi’ah, di antaranya:
a.       Nashr bin Muhazim
b.      Ahmad bin Muhammad bin ‘Isa al-Asy’ari
c.       Ahmad bin Abi ‘Abdillah al-Barqi
d.      Ibrahim bin Hilal al-Tsaqafi
e.       Muhammad bin Hasan bin Furukh al-Shaffar
f.        Muhammad bin Mas’ud al-‘Ayasyi al-Samarqandi
g.       Ali bin Babawaeh al-Qomi
h.       Syaikhul Masyayikh, Muhammad al-Kulaini
i.         Ibn ‘Aqil al-‘Ummani
j.        Muhammad bin Hamam al-Iskafi
k.      Muhammad bin ‘Umar al-Kasyi
l.         Ibn Qawlawaeh al-Qomi
m.     Ayatullah Ruhullah Khomeini
n.       Al-‘Allamah Sayyid Muhammad Husain al-Thabathaba’i
o.      Sayyid Husseyn Fadhlullah
p.      Murtadha Muthahhari
q.      ‘Ali Syari’ati
r.        Jalaluddin Rakhmat
s.       Hasan Abu Ammar

4.      Ajaran-ajaran Syi’ah
A.     Ahlulbait. Secara harfiah ahlulbait berarti keluarga atau kerabat dekat. Dalam sejarah Islam, istilah itu secara khusus dimaksudkan kepada keluarga atau kerabat Nabi Muhammad saw. Ada tiga bentuk pengertian Ahlulbait. Pertama, mencakup istri-istri Nabi Muhammad saw dan seluruh Bani Hasyim. Kedua, hanya Bani Hasyim. Ketiga, terbatas hanya pada Nabi sendiri, ‘Ali, Fathimah, Hasan, Husain, dan imam-imam dari keturunan ‘Ali bin Abi Thalib. Dalam Syi’ah bentuk terakhirlah yang lebih populer.
B.     Al-Badâ’. Dari segi bahasa, badâ’ berarti tampak. Doktrin al-badâ’ adalah keyakinan bahwa Allah swt mampu mengubah suatu peraturan atau keputusan yang telah ditetapkan-Nya dengan peraturan atau keputusan baru. Menurut Syi’ah, perubahan keputusan Allah itu bukan karena Allah baru mengetahui suatu maslahat, yang sebelumnya tidak diketahui oleh-Nya (seperti yang sering dianggap oleh berbagai pihak). Dalam Syi’ah keyakinan semacam ini termasuk kufur. Imam Ja’far al-Shadiq menyatakan, “Barangsiapa yang mengatakan Allah swt baru mengetahui sesuatu yang tidak diketahui-Nya, dan karenanya Ia menyesal, maka orang itu bagi kami telah kafir kepada Allah swt.” Menurut Syi’ah, perubahan itu karena adanya maslahat tertentu yang menyebabkan Allah swt memutuskan suatu perkara sesuai dengan situasi dan kondisi pada zamannya. Misalnya, keputusan Allah mengganti Isma’il as dengan domba, padahal sebelumnya Ia memerintahkan Nabi Ibrahim as untuk menyembelih Isma’il as.
C.     Asyura. Asyura berasal dari kata ‘asyarah, yang berarti sepuluh. Maksudnya adalah hari kesepuluh dalam bulan Muharram yang diperingati kaum Syi’ah sebagai hari berkabung umum untuk memperingati wafatnya Imam Husain bin ‘Ali dan keluarganya di tangan pasukan Yazid bin Mu’awiyah bin Abu Sufyan pada tahun 61 H di Karbala, Irak. Pada upacara peringatan asyura tersebut, selain mengenang perjuangan Husain bin ‘Ali dalam menegakkan kebenaran, orang-orang Syi’ah juga membaca salawat bagi Nabi saw dan keluarganya, mengutuk pelaku pembunuhan terhadap Husain dan keluarganya, serta memperagakan berbagai aksi (seperti memukul-mukul dada dan mengusung-usung peti mayat) sebagai lambang kesedihan terhadap wafatnya Husain bin ‘Ali. Di Indonesia, upacara asyura juga dilakukan di berbagai daerah seperti di Bengkulu dan Padang Pariaman, Sumatera Barat, dalam bentuk arak-arakan tabut.
D.     Imamah (kepemimpinan). Imamah adalah keyakinan bahwa setelah Nabi saw wafat harus ada pemimpin-pemimpin Islam yang melanjutkan misi atau risalah Nabi. Atau, dalam pengertian Ali Syari’ati, adalah kepemimpinan progresif dan revolusioner yang bertentangan dengan rezim-rezim politik lainnya guna membimbing manusia serta membangun masyarakat di atas fondasi yang benar dan kuat, yang bakal mengarahkan menuju kesadaran, pertumbuhan, dan kemandirian dalam mengambil keputusan. Dalam Syi’ah, kepemimpinan itu mencakup persoalan-persoalan keagamaan dan kemasyarakatan. Imam bagi mereka adalah pemimpin agama sekaligus pemimpin masyarakat. Pada umumnya, dalam Syi’ah, kecuali Syi’ah Zaidiyah, penentuan imam bukan berdasarkan kesepakatan atau pilihan umat, tetapi berdasarkan wasiat atau penunjukan oleh imam sebelumnya atau oleh Rasulullah langsung, yang lazim disebut nash.
E.      ‘Ishmah. Dari segi bahasa, ‘ishmah adalah bentuk mashdar dari kata ‘ashama yang berarti memelihara atau menjaga. ‘Ishmah ialah kepercayaan bahwa para imam itu, termasuk Nabi Muhammad, telah dijamin oleh Allah dari segala bentuk perbuatan salah atau lupa. Ali Syari’ati mendefinisikan ‘ishmah sebagai prinsip yang menyatakan bahwa pemimpin suatu komunitas atau masyarakat—yakni, orang yang memegang kendali nasib di tangannya, orang yang diberi amanat kepemimpinan oleh orang banyak—mestilah bebas dari kejahatan dan kelemahan.
F.      Mahdawiyah. Berasal dari kata mahdi, yang berarti keyakinan akan datangnya seorang juru selamat pada akhir zaman yang akan menyelamatkan kehidupan manusia di muka bumi ini. Juru selamat itu disebut Imam Mahdi. Dalam Syi’ah, figur Imam Mahdi jelas sekali. Ia adalah salah seorang dari imam-imam yang mereka yakini. Syi’ah Itsna ‘Asyariyah, misalnya, memiliki keyakinan bahwa Muhammad bin Hasan al-Askari (Muhammad al-Muntazhar) adalah Imam Mahdi. Di samping itu, Imam Mahdi ini diyakini masih hidup sampai sekarang, hanya saja manusia biasa tidak dapat menjangkaunya, dan nanti di akhir zaman ia akan muncul kembali dengan membawa keadilan bagi seluruh masyarakat dunia.
G.     Marja’iyyah atau Wilâyah al-Faqîh. Kata marja’iyyah berasal dari kata marja’ yang artinya tempat kembalinya sesuatu. Sedangkan kata wilâyah al-faqîh terdiri dari dua kata: wilâyah berarti kekuasaan atau kepemimpinan; dan faqîh berarti ahli fiqh atau ahli hukum Islam. Wilâyah al-faqîh mempunyai arti kekuasaan atau kepemimpinan para fuqaha.       
H.     Raj’ah. Kata raj’ah berasal dari kata raja’a yang artinya pulang atau kembali. Raj’ah adalah keyakinan akan dihidupkannya kembali sejumlah hamba Allah swt yang paling saleh dan sejumlah hamba Allah yang paling durhaka untuk membuktikan kebesaran dan kekuasaan Allah swt di muka bumi, bersamaan dengan munculnya Imam Mahdi Sementara Syaikh Abdul Mun’eim al-Nemr mendefinisikan raj’ah sebagai suatu prinsip atau akidah Syi’ah, yang maksudnya ialah bahwa sebagian manusiaakan dihidupkan kembali setelah mati karena itulah kehendak dan hikmat Allah, setelah itu dimatikan kembali. Kemudian di hari kebangkitan kembali bersama makhluk lain seluruhnya. Tujuan dari prinsip Syi’ah seperti ini adalah untuk memenuhi selera dan keinginan memerintah. Lalu kemudian untuk membalas dendam kepada orang-orang yang merebut kepemimpinan ‘Ali.
I.        Taqiyah. Dari segi bahasa, taqiyah berasal dari kata taqiya atau ittaqâ yang artinya takut. Taqiyah adalah sikap berhati-hati demi menjaga keselamatan jiwa karena khawatir akan bahaya yang dapat menimpa dirinya. Dalam kehati-hatian ini terkandung sikap penyembunyian identitas dan ketidakterusterangan. Perilaku taqiyah ini boleh dilakukan, bahkan hukumnya wajib dan merupakan salah satu dasar mazhab Syi’ah
J.       Tawassul. Adalah memohon sesuatu kepada Allah dengan menyebut pribadi atau kedudukan seorang Nabi, imam atau bahkan seorang wali suaya doanya tersebut cepat dikabulkan Allah swt. Dalam Syi’ah, tawassul merupakan salah satu tradisi keagamaan yang sulit dipisahkan. Dapat dikatakan bahwa hampir setiap doa mereka selalu terselip unsur tawassul, tetapi biasanya tawassul dalam Syi’ah terbatas pada pribadi Nabi saw atau imam-imam dari Ahlulbait. Dalam doa-doa mereka selalu dijumpai ungkapan-ungkapan seperti “Yâ Fâthimah isyfa’î ‘indallâh” (wahai Fathimah, mohonkanlah syafaat bagiku kepada Allah), dsb.
K.    Tawallî dan tabarrî. Kata tawallî berasal dari kata tawallâ fulânan yang artinya mengangkat seseorang sebagai pemimpinnya. Adapun tabarrî berasal dari kata tabarra’a ‘an fulân yang artinya melepaskan diri atau menjauhkan diri dari seseorang. Kedua sikap ini dianut pemeluk-pemeluk Syi’ah berdasarkan beberapa ayat dan hadis yang mereka pahami sebagai perintah untuk tawallî kepada Ahlulbait dan tabarrî dari musuh-musuhnya. Misalnya, hadis Nabi mengenai ‘Ali bin Abi Thalib yang berbunyi: “Barangsiapa yang menganggap aku ini adalah pemimpinnya maka hendaklah ia menjadikan ‘Ali sebagai pemimpinnya. Ya Allah belalah orang yang membela Ali, binasakanlah orang yang menghina ‘Ali dan lindungilah orang yang melindungi ‘Ali.” (H.R. Ahmad bin Hanbal)

5.      Sekte-sekte Syi’ah
Para ahli umumnya membagi sekte Syi’ah ke dalam empat golongan besar, yaitu Kaisaniyah, Zaidiyah, Imamiyah, dan Kaum Ghulat. Golongan Imamiyah pecah menjadi beberapa golongan. Yang terbesar adalah golongan Itsna ‘Asyariyah atau Syi’ah Duabelas. Golongan lainnya adalah golongan Isma’iliyah.
Selain itu terdapat juga pendapat lain. Misalnya dari al-Syahrastani. Beliau membagi Syi’ah ke dalam lima kelompok, yaitu Kaisaniyah, Zaidiyah, Imamiyah, Ghulat (Syi’ah sesat), dan Isma’iliyah.Sedangkan al-Asy’ari membagi Syi’ah menjadi tiga kelompok besar, yaitu: Syi’ah Ghaliyah, yang terbagi lagi menjadi 15 kelompok; Syi’ah Imamiyah (Rafidhah), yang terbagi menjadi 14 kelompok; dan Syi’ah Zaidiyah, yang terbagi menjadi 6 kelompok.
Joesoef So’uyb dalam bukunya Pertumbuhan dan Perkembangan Aliran-aliran Sekta Syi’ah membagi Syi’ah ke dalam beberapa sekte, yaitu Sekte Imamiyah (yang kemudian pecah menjadi Imamiyyah Sittah dan Itsna ‘Asyariyah), Zaidiyah, Kaisaniyah, Isma’iliyah, Qaramithah, Hasyasyin, dan Fathimiyah.
Sementara itu, Abdul Mun’im al-Hafni dalam Ensiklopedia Golongan, Kelompok, Aliran, Mazhab, Partai, dan Gerakan Islam, mengklasifikasikan Syi’ah secara rinci sebagai berikut:
A. Al-Ghaliyah: Bayaniyah, Janahiyah, Harbiyah, Mughiriyah, Manshuriyah, Khithabiyah, Mu’ammariyah, Bazighiyah, ‘Umairiyah, Mufadhaliyah, Hululiyah, Syar’iyah, Namiriyah, Saba’iyah, Mufawwidhah, Dzamiyah, Gharabiyah, Hilmaniyah, Muqanna’iyah, Halajiyah, Isma’iliyah.
B.     Imamiyah: Qath’iyah, Kaisaniyah, Karbiyah, Rawandiyah, Abu Muslimiyah, Rizamiyah, Harbiyah, Bailaqiyah, Mughiriyah, Husainiyah, Kamiliyah, Muhammadiyah, Baqiriyah, Nawisiyah, Qaramithah, Mubarakiyah, Syamithiyah, ‘Ammariyah (Futhahiyah), Zirariyah (Taimiyah), Waqifiyah (Mamthurah-Musa’iyah-Mufadhdhaliyah), ‘Udzairah, Musawiyah, Hasyimiyah, Yunusiah, Setaniyah.
C.     Zaidiyah: Jarudiyah, Sulaimaniyah, Shalihiyah, Batriyah, Na’imiyah, Ya’qubiyah

III.      Penutup
Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa Syi’ah adalah salah satu aliran dalam Islam yang meyakini bahwa ‘Ali bin Abi Thalib dan keturunannya adalah imam-imam atau para pemimpin agama dan umat setelah Nabi Muhammad saw. Doktrin-doktrin yang diyakini para pengikut Syi’ah secara garis besar ada 11 macam, yaitu konsepsi tentang Ahlulbait, al-badâ’, asyura, imamah, ‘ishmah, mahdawiyah, marjâ’iyah atau wilâyah al-faqîh, raj’ah, taqiyah, tawassul, dan tawallî dan tabarrî yang dalam banyak hal memiliki perbedaan (pemahaman) dengan kalangan Sunni. Dalam Syi’ah terdapat berbagai macam sekte/kelompok yang memiliki perbedaan satu sama lain dalam memandang ajaran-ajaran seperti tertulis di atas.
Wallâhu a’lam bi al-shawâb