Dengan ucapan basmallah kita
mulai sebuah perbuatan dan dengan melafatkan hamdallah kita mengakhirinya, demi
mendapat ridho Dzat yang telah memberi kita kesempatan untuk mempelajari
sesuatu yang baru. Demikianlah yang sudah terbangun dalam moral pola kehidupan
seorang muslim, sebab landasannya sudah jelas, jika yang akan dikerjakan itu
adalah wujud dari ekspresi iman dan taqwa kepada Allah, maka ikhlas adalah
wujud kesungguhan ia bekerja dan berjuang dan ridho adalah imbalan dari kerja
kerasnya. Inilah sikap moral dari seorang muslim dan dari sinilah etos kerja
seorang muslim terbangun, bahwa bekerja keras dan dan berjuang dalam kapasitas
apa saja, kapan saja dan dimana saja adalah ibadah sekaligus jalan dakwah amar
ma’ruf nahi munkar yang sekaligus menjadi cara atau langkah hidup sebagai
seorang pemimpin.
Adalah
pemilu, pesta demokrasi anak bangsa, demikian kata orang yang tengah dimabuk
euphoria demokrasi. Gegap gempitanya begitu dahsyat, sangat menguras tenaga dan
pikiran serta menghabiskan dana yang tidak sedikit (entah dari mana asalnya)
bahkan tidak berlebihan jika kita sebutkan bahwa pesta demokrasi rakyat yang
datang 5 tahun sekali ini adalah pesta pemborosan yang luar biasa yang terjadi
di muka bumi ini. Negeri yang selalu mengdepankan kenikmatan sesaat tanpa
perubahan berarti. Adalah harga yang harus dibayar oleh pelaku-pelakunya dengan
demokrasi yang sangat mahal memang tapi demi meraih sebuah cita-cita yakni ikut
andil dalam pesta rakyat untuk menjadi jembatan suara rakyat. Tapi demi meraih
sebuah cita-cita, yaitu ikut andil memperjuangkan sebuah masyarakat yang damai
dan dapat menikmati hasil bumi serta kekayaan alam negerinya bukan menjadi
pahlawan devisa di negeri orang dan menjadi kuli di negeri sendiri.
Ada
sebuah kata kunci yang sesungguhnya tertanam dan tersentuh dihati setiap
penduduk negeri ini adalah ”perubahan” . Tidak hanya sekedar sebuah mimpi, tapi
dunia nyata yang mereka ingin wujudkan. Bukankah rakyat adalah pemilik sah
negeri ini? Perubahan yang diinginkan rakyat ini harus dibarengi dengan
perubahan dari seluruh aspek yang menjadi agen-agen dalam perubahannya.
Perubahan sosial dan budaya bukanlah sebuah proyek sekali jadi yang dapat
dibereskan sesuai dengan keinginan dan waktu kita. Perubahan budaya adalah
sebuah perubahan yang menuntut ketabahan untuk menghadapi banyak hal tidak
dapat diperkirakan sebelumnya. Penyelesaiannya pun tidak bisa diserahkan hanya
kepada pemerintah saja, tetapi harus sinergi dengan berbagai elemen masyarakat.
Setidaknya dari inilah dapat kita petik berapa mahal harga sebuah kata
”demokrasi” bukan dinilai dari rupiahnya, akan tetapi lebih pada esensi
perubahan yang benar-benar diharapkan oleh rakyat. Jika kita kutip dari
penggalan percakapan yang ada pada film Laskar Pelangi maka kita akan tahu
bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya tidak hanya didunia
akan tetapi ketika diri kita sudah menghadap lagi pada-Nya.