Sugeng Rawuh

selamat datang di blog pribadi saya
semoga dapat menjadi media berbagi ilmu

Minggu, 22 November 2009

HARGA SEBUAH DEMOKRASI




Dengan ucapan basmallah kita mulai sebuah perbuatan dan dengan melafatkan hamdallah kita mengakhirinya, demi mendapat ridho Dzat yang telah memberi kita kesempatan untuk mempelajari sesuatu yang baru. Demikianlah yang sudah terbangun dalam moral pola kehidupan seorang muslim, sebab landasannya sudah jelas, jika yang akan dikerjakan itu adalah wujud dari ekspresi iman dan taqwa kepada Allah, maka ikhlas adalah wujud kesungguhan ia bekerja dan berjuang dan ridho adalah imbalan dari kerja kerasnya. Inilah sikap moral dari seorang muslim dan dari sinilah etos kerja seorang muslim terbangun, bahwa bekerja keras dan dan berjuang dalam kapasitas apa saja, kapan saja dan dimana saja adalah ibadah sekaligus jalan dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang sekaligus menjadi cara atau langkah hidup sebagai seorang pemimpin.
Adalah pemilu, pesta demokrasi anak bangsa, demikian kata orang yang tengah dimabuk euphoria demokrasi. Gegap gempitanya begitu dahsyat, sangat menguras tenaga dan pikiran serta menghabiskan dana yang tidak sedikit (entah dari mana asalnya) bahkan tidak berlebihan jika kita sebutkan bahwa pesta demokrasi rakyat yang datang 5 tahun sekali ini adalah pesta pemborosan yang luar biasa yang terjadi di muka bumi ini. Negeri yang selalu mengdepankan kenikmatan sesaat tanpa perubahan berarti. Adalah harga yang harus dibayar oleh pelaku-pelakunya dengan demokrasi yang sangat mahal memang tapi demi meraih sebuah cita-cita yakni ikut andil dalam pesta rakyat untuk menjadi jembatan suara rakyat. Tapi demi meraih sebuah cita-cita, yaitu ikut andil memperjuangkan sebuah masyarakat yang damai dan dapat menikmati hasil bumi serta kekayaan alam negerinya bukan menjadi pahlawan devisa di negeri orang dan menjadi kuli di negeri sendiri.
Ada sebuah kata kunci yang sesungguhnya tertanam dan tersentuh dihati setiap penduduk negeri ini adalah ”perubahan” . Tidak hanya sekedar sebuah mimpi, tapi dunia nyata yang mereka ingin wujudkan. Bukankah rakyat adalah pemilik sah negeri ini? Perubahan yang diinginkan rakyat ini harus dibarengi dengan perubahan dari seluruh aspek yang menjadi agen-agen dalam perubahannya. Perubahan sosial dan budaya bukanlah sebuah proyek sekali jadi yang dapat dibereskan sesuai dengan keinginan dan waktu kita. Perubahan budaya adalah sebuah perubahan yang menuntut ketabahan untuk menghadapi banyak hal tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Penyelesaiannya pun tidak bisa diserahkan hanya kepada pemerintah saja, tetapi harus sinergi dengan berbagai elemen masyarakat. Setidaknya dari inilah dapat kita petik berapa mahal harga sebuah kata ”demokrasi” bukan dinilai dari rupiahnya, akan tetapi lebih pada esensi perubahan yang benar-benar diharapkan oleh rakyat. Jika kita kutip dari penggalan percakapan yang ada pada film Laskar Pelangi maka kita akan tahu bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya tidak hanya didunia akan tetapi ketika diri kita sudah menghadap lagi pada-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar