June 30 2008
Sulit bagiku mengucapkan cinta
Tapi aku tak mampu membohongi hatiku
bahwa sosokmu kian hadir dalam anganku seperti embun
Yang menggelincir di lereng hati
Menetesi rimbun cemara kehidupan yang tulus dan suci dan tak dapat di bendung.
Aku mencintaimu
Layaknya serakan sampah jalanan kota
Yang merindukan api pembakaran
Untuk hanguskan ke terasinganku. Agar tak menjadi nafsu membara dan tak ingin mengumbar emosi.
Layaknya serakan sampah jalanan kota
Yang merindukan api pembakaran
Untuk hanguskan ke terasinganku. Agar tak menjadi nafsu membara dan tak ingin mengumbar emosi.
Aku mencintaimu
Dengan kecemasan hati
Akankah ku akan membahagiakan mu
Akankah ku akan jadi yang kau mau.
Dengan kecemasan hati
Akankah ku akan membahagiakan mu
Akankah ku akan jadi yang kau mau.
Aku mencintaimu
Layaknya surga merindu orang soleh
Merayakan kematiannya menuntun dengan kebahagìaan hakiki.
Layaknya surga merindu orang soleh
Merayakan kematiannya menuntun dengan kebahagìaan hakiki.
Aku mencintaimu
Seperti separuh purnama berkabut kelam yang berlalu
Menunggu mentari yang redup-redup menampakkan sinarnya
“Harapku kau akan datang kepadaku atau ku akan datang padamu, diwaktu dan tempat yang Allah S.W.T tetapkan”
Seperti separuh purnama berkabut kelam yang berlalu
Menunggu mentari yang redup-redup menampakkan sinarnya
“Harapku kau akan datang kepadaku atau ku akan datang padamu, diwaktu dan tempat yang Allah S.W.T tetapkan”
Untuk mu pencuri hatiku
Dalam kesendirianku ada harap yang
membuncah menabur rinai kata yang kunanti
Penantian yang membujur seluas
pengharapanku pada kehidupan ini yang mengijinkanku mengenalmu
Karena kamu pencuri hatiku yang tak
mungkin lekang dalam hitungan waktu
Aku mengenalmu tak lebh dari separuh
hidupku
Tapi dirimu sudah dapat menaburkan benih
cinta
”dan ’nafas cintanyalah’ yang meniup
’kuncupku’ mekar menjadi bunga”